Dukung Komodo di new 7 wonder

Siapkan HP mu dan segera tulis pesan baru :

ketik ‘Komodo‘ dan kirim ke ‘9818

Layanan SMS yang sebelumnya bernilai Rp1.000 akan diturunkan, nyaris gratis. “Mulai 15 Oktober menjadi Rp1 saja”

simpel bukan ?? buat nilai indonesia menjadi naik (secara baik) di mata dunia, jangan cuma berita gak baik aja indonesia naik dimata dunia…
saya  sudah,,, kamu??

setelah kirim sms nanti kamu akan mendapat balasan dari operatornya, sebagai ucapan terima kasih dan silahkan mengunjungi www.pilihkomodo.com

***

berikut ini sedikit penjelasan tentang komodo, check it out guys..

 

Empat Misteri Komodo yang Berhasil Dikuak

1. Asal usul Komodo

Meski habitat aslinya di NTT, penelitian ahli pada tahun 2009 menyimpulkan, Komodo ternyata bukan hewan asli Indonesia.

Ahli palaeontologi dan arkeologi dari Australia, Malaysia, dan Indonesia membuktikan tulang Komodo sama dengan tiga fosil hewan yang ditemukan di Queensland. Itu memperkuat teori bahwa Australia adalah tempat evolusi Komodo.

Fosil yang ditemukan di Queensland menunjukan bahwa Komodo berasal dari Australia empat juta tahun yang lalu dan bertahan kira-kira hingga 300.000 tahun lalu.

Para peneliti juga menemukan bahwa Komodo menyebar ke sejumlah wilayah, kemudian sampai di Pulau Flores sekitar 900.000 tahun lalu — rumah terbaik bagi hewan itu.

Sementara di tempat asalnya, Australia, Komodo punah 50.000 tahun lalu — bertepatan dengan saat manusia tiba di Australia. Komodo juga menghilang dan punah di beberapa pulau lain di Indonesia, kecuali Flores.

2. Bisa melahirkan dalam kondisi perawan

Perempuan mungkin bisa hidup tanpa laki-laki, ini setidaknya berlaku untuk Komodo. Biawak raksasa betina bisa menghasilkan bayi tanpa pembuahan jantan.

Flora, Komodo yang tinggal di Chester Zoo, London menjadi buktinya. Pada 2006 lalu, ia melahirkan delapan telur Komodo. Melalui proses partenogenesis – reproduksi aseksual tanpa pembuahan, dalam keadaan perawan.

Kejadian di kebun binatang London itu adalah kali pertamanya partenogenesis pada Komodo yang tercatat terjadi di dunia.

Ilmuwan menguak reproduksi Komodo bisa dilakukan dengan dua cara: seksual atau aseksual, tergantung pada kondisi lingkungan mereka. Di kebun binatang, biasanya Komodo betina ditempatkan terlisah dari yang lain.

3. Misteri gigitan mematikan Komodo

Meski berbadan besar – bisa mencapai 3 meter, gigitan Komodo termasuk lembek. Namun, entah bagaimana, kadal raksasa itu bisa memangsa hewan besar, seperti kerbau misalnya.

Apa rahasia gigitan Komodo?

Ahli biologi dari University of New South Wales, Australia menemukan, dalam mulut Komodo terdapat beberapa lusin gigi setajam silet.

Gigi runcing itu dikombinasikan dengan otot kuat di lehernya yang gemuk. “Kombinasi teknik makan cerdas dan tajamnya gigi, memungkinkan gigitannya bisa berakibat mematikan,” kata ahli biologi, Stephen Wroe.

Untuk menguak misteri gigitan Komodo, para ahli membangun sebuah model kepala dan tenggorokan hewan itu dengan perangkat lunak. Rahang Komodo boleh saja lemah, tapi 100 juta tahun evolusi telah memberinya senjata yang ampuh.

“Komodo punya teknik makan yang unik, terus menerus menarik makanannya.” Ia menangkap mangsanya dan menghujamkan 60 gigi tajam. Menutupi kekurangan gigitan yang lemah, otot tenggorokannya yang kuat akan menarik mangsa masuk ke perut.”

Komodo akan menelan utuh-utuh mangsanya dan memuntahkan sisa-sisa yang tak dapat ia cerna: rambut dan sebagian tulang.

4. Di balik air liur Komodo yang mematikan

Selain keunikan teknik makannya, Komodo juga memiliki senjata lain untuk melumpuhkan mangsanya: air liur.

Meski seekor hewan bisa lolos dari serangan Komodo, ia segera melemah dan akhirnya mati.

Untuk jangka waktu yang lama, peneliti menduga, bakteri di air liur hewan itu bertanggung jawab menimbulkan luka infeksi yang parah pada korbannya. Bakteri itu meracuni darah korban.

Namun, dugaan itu terbantahkan pada tahun 2005 lalu. “Adanya bakteri dalam air liur Komodo atelah menjadi dongeng ilmiah,” kata Bryan Fry, peneliti racun di University of Melbourne, Australia.

Fry dan timnya mempelajari susunan biokimia dalam air liur Komodo. Mereka menemukan, racun tersebut bisa dengan cepat menurunkan tekanan darah, mempercepat hilangnya darah, dan membuat korban menjadi syok — hingga tak berdaya melawan.

Para ilmuwan menemukan, apa yang terkandung dalam liur Komodo serupa dengan racun yang dimiliki ular paling berbisa yang hidup di pedalaman Taipan, Australia.

Sementara para rekannya takjub dengan penemuan ini, Fry mengaku tak heran. Sebab, penelitian yang pernah ia lakukan sebelumnya menemukan, sejumlah spesies kadal — seperti Iguana, kadal tak berkaki, dan kadal monitor juga memiliki bisa.

****

Terima Kasih, Semoga bermanfaat..

 Sumber :

http://www.aguschandra.com/2011/10/mari-dukung-komodo-di-new-7-wonders/

di copy pada hari jum’at 28 oktober 2011.

21.19 WIB

Iklan

“Indonesia: the New Rising Star in the Global World”

Pada tanggal 3 Agustus 2011 bertempat di Osaka International House telah diselenggarakan simposium “Indonesia: the New Rising Star in the Global World” yang membahas mengenai perkembangan politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia sebagai rangkaian dari HUT RI ke-66. Tiga pakar Indonesia hadir sebagai pembicara yakni Prof. Dr. Jun Honna (Faculty of International Relations, Ritsumeikan University); Prof. Dr. Kosuke Mizuno (Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University); dan Prof. Dr. Hisanori Kato (Butsuryo College Osaka).

Pada sambutan pembukaan, Konjen RI Osaka antara lain menyampaikan perkembangan Indonesia, termasuk peningkatan ekonomi Indonesia yang didukung oleh stabilitas politik dan peran Indonesia dalam berbagai forum internasional.

Suksesnya pemilu sejak tahun 1998 mencerminkan Indonesia sebagai negara demokratis terbesar di Asia Timur. Menurut Prof. Dr. Jun Honna. saat ini Indonesia mulai memasuki reformasi tahap kedua, yang terdiri dari reformasi hukum melalui KPK dan modernisasi Partai Politik. Dalam hubungan dengan Jepang, Indonesia memiliki peran penting bagistabilitas di kawasan. Karena Jepang dan Indonesia merupakan negara kepulauan, kerjasama keamanan antara Indonesia dan Jepang untuk menjamin keamanan wilayah laut.

Di bidang ekonomi, Prof. Dr. Kosuke Mizuno  menjelaskan bahwa adanya ASEAN – China Free Trade Agreeement (ACFTA) berimbas pada sektor ekonomi Indonesia. Dalam 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri diprediksi mengalami penurunan yang sebagian dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis Industri Kecil dan Menengah. Selain itu, pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen menjadi importer atau pedagang. Di sisi lain, dengan adanya ACFTA, di Indonesia tersedia bahan mentah dari China dengan harga murah sehingga para pengusaha dapat memproduksi suatu produk yang murah, sehingga dapat bersaing di pasar ASEAN.

Dalam presentasi mengenai budaya, Prof. Dr. Hisanori Kato memaparkan mengenai sisi positif dan sisi negatif kebudayaan Indonesia sesuai pengalamannya saat di Indonesia. Indonesia memiliki berbagai macam nilai.  Ia mengambil contoh kata “tidak apa-apa”,yang sering  sekali digunakan. Menurutnya, kata “tidak apa-apa” memiliki sisi positif maupun sisi negatif. Dari sisi positif, kata ini dapat meningkatkan toleransi terhadap perbedaan pada masyarakat Indonesia, terutama dalam toleransi beragama, namun dari sisi negatif, kata “tidak apa-apa” menjadikan suatu pemakluman bagi hal-hal yang negatif, seperti keterlambatan, kesalahaan dan lain-lain. Indonesia kan menjadi negara yang maju, apabila dapat mengembangkan nilai-nilai positif dalam kebudayaannya, seperti kata “tidak apa-apa”.

Setelah sesi paparan, para hadirin pun melontarkan berbagai pertanyaan kepada ketiga pembicara. Para hadirin tampaknya sangat antusias dan ingin mengetahui lebih dalam mengenai Indonesia. Dari berbagai pertanyaan yang dilontarkan tampak bahwa masyarakat Jepang maupun warga Indonesia yang berada di luar negeri berharap agar Indonesia dapat terus maju dan memiliki peran yang lebih besar bagi kemajuan Indonesia dan peningkatan hubungan Indonesia-Jepang.

Sumber :
http://www.indonesia-osaka.org 

geotoolbar

Arsip